
Foto: Sri Handayan
Wadahnews.com- Perkembangan media sosial dan trend digital saat ini dinilai memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong munculnya perilaku konsumtif dan pembelian impulsif di kalangan generasi muda.
Fenomena tersebut dibahas dalam kajian behavioral finance, yaitu cabang ilmu keuangan yang mempelajari bagaimana faktor psikologis memengaruhi pengambilan keputusan finansial seseorang.
Dalam konteks mahasiswa, FOMO kerap muncul melalui dorongan untuk mengikuti tren, mulai dari pembelian barang viral, gadget terbaru, hingga tiket konser, meskipun tidak termasuk kebutuhan utama.
Ibu Nurhayani Lubis selaku Dosen/akademisi di bidang keuangan menjelaskan bahwa rasa takut tertinggal dari lingkungan sosial sering kali membuat individu mengambil keputusan keuangan yang tidak rasional. “Mahasiswa cenderung lebih mudah terpengaruh oleh validasi sosial, seperti unggahan di media sosial, sehingga dorongan emosional lebih dominan dibandingkan pertimbangan kebutuhan dan kemampuan finansial,” ujarnya.
Kemudahan sistem pembayaran digital, seperti layanan PayLater, turut memperbesar risiko perilaku konsumtif. Mahasiswa kerap merasa terbantu karena dapat membeli barang tanpa harus membayar secara langsung, namun di sisi lain hal ini berpotensi menimbulkan masalah arus kas dan stres finansial akibat kewajiban pembayaran di kemudian hari.
Dampak dari perilaku impulsif tersebut tidak hanya berpengaruh pada kondisi ekonomi pribadi, tetapi juga terhadap kesehatan mental. Rasa puas yang bersifat sementara saat berbelanja sering kali diikuti oleh kecemasan ketika menghadapi tagihan dan keterbatasan keuangan.
Sebagai langkah pencegahan, mahasiswa dianjurkan untuk menerapkan pengelolaan keuangan yang lebih bijak, seperti aturan 24 jam sebelum membeli barang non-kebutuhan serta menyusun anggaran khusus untuk pengeluaran hiburan. Dengan cara ini, mahasiswa tetap dapat menikmati gaya hidup sosial tanpa mengorbankan stabilitas keuangan jangka panjang.
Melalui edukasi literasi keuangan berbasis perilaku, kampus diharapkan dapat berperan aktif dalam membekali mahasiswa dengan pemahaman yang lebih baik mengenai pengambilan keputusan finansial. Hal ini penting guna membentuk generasi muda yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga bijak dan bertanggung jawab dalam mengelola keuangan.
Sri Handayani
(Mahasiswi Manajemen Pascasarjana Universitas Lancang Kuning)