
Foto: Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi
Wadahnews.com– Ketika sejumlah daerah menghadapi tekanan akibat kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam, sektor sawit Riau justru menunjukkan daya tahannya. Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bumi Lancang Kuning tetap kokoh bertahan di atas Rp3.000 per kilogram, menjadi kabar baik bagi jutaan petani dan pelaku usaha perkebunan.
Kondisi tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, usai rapat penetapan harga TBS tahun 2026. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Riau berhasil menjaga stabilitas harga meski pemerintah pusat menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam Strategis.
"Alhamdulillah, di tengah kebijakan baru yang diterapkan pemerintah pusat, harga TBS di Riau masih mampu bertahan di atas Rp3.000," ujar Syahrial.
Bagi Riau, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di provinsi yang menyumbang sekitar 20 persen produksi kelapa sawit nasional itu, pergerakan harga TBS sangat menentukan denyut ekonomi masyarakat. Saat harga terjaga, roda perekonomian daerah ikut bergerak.
Ketahanan harga sawit Riau semakin menarik perhatian karena sebelumnya Menteri Pertanian mengungkap adanya sekitar 300 perusahaan yang dilaporkan menjual TBS di bawah harga ketentuan. Namun di tengah situasi tersebut, Riau mampu menjaga harga tetap stabil.
"Meskipun ada laporan ratusan perusahaan memainkan harga jual TBS di bawah harga, alhamdulillah Provinsi Riau masih bisa mengendalikan harga. Hasil rapat terakhir menunjukkan TBS tetap berada di atas Rp3.000," jelasnya.
Sebagai daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia dengan luas perkebunan mencapai 3,8 juta hektare, Riau memiliki kepentingan besar terhadap setiap kebijakan yang berkaitan dengan ekspor komoditas strategis. Apalagi, sektor sawit selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah.
Tak hanya mengandalkan sawit, Riau juga dikenal sebagai salah satu penghasil minyak dan gas terbesar di Indonesia. Kombinasi dua sektor unggulan tersebut menjadikan Riau sebagai salah satu motor ekonomi nasional yang memiliki posisi strategis.
Keunggulan lainnya adalah letak geografis Riau yang berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka. Posisi ini membuat Riau menjadi salah satu gerbang penting ekspor Indonesia ke pasar global.
Karena itu, Pemprov Riau berharap kebijakan tata kelola ekspor yang baru tidak hanya memperkuat pengawasan, tetapi juga mampu menciptakan sistem perdagangan yang lebih sehat, transparan, dan menguntungkan daerah penghasil.
Di tengah berbagai tantangan global dan perubahan regulasi, satu pesan yang ingin ditegaskan Riau cukup jelas: sawit tetap menjadi kekuatan utama daerah, dan hingga kini harga TBS masih berdiri kokoh di atas level psikologis Rp3.000 per kilogram.
Bagi petani sawit, itu bukan sekadar angka. Itu adalah tanda bahwa harapan masih terjaga. (Saf/mcr)