Wadahnews.com– Pemerintah Provinsi Riau tak ingin setengah-setengah dalam melawan tuberkulosis (TBC). Target besar eliminasi TBC pada 2030 kini dikejar serius, dengan strategi yang tak lagi sekadar mengobati, tapi juga memburu kasus sejak dini.
Asisten I Setdaprov Riau, Zulkifli Syukur, menegaskan pendekatan baru ini menjadi kunci memutus rantai penularan yang selama ini masih terjadi di tengah masyarakat.
“Kita tidak hanya fokus pada pengobatan, tapi juga pencegahan dan deteksi dini. Ini penting agar penularan bisa dihentikan lebih cepat,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Berbagai langkah konkret pun digerakkan. Mulai dari pembentukan tim percepatan penanggulangan TBC, penemuan kasus aktif, hingga pelacakan kontak pada kelompok berisiko tinggi.
Di sisi layanan, Riau juga menunjukkan kesiapan. Saat ini, 14 rumah sakit dan 15 puskesmas telah menangani TBC resisten obat—jenis TBC yang lebih sulit diobati.
“Ini bukti kita siap, termasuk menghadapi kasus yang kompleks,” tegasnya.
Tak hanya mengandalkan tenaga kesehatan, Pemprov Riau juga menggandeng masyarakat dalam berbagai inovasi penanggulangan TBC. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar program berjalan efektif dan berkelanjutan.
Selain TBC, pengendalian penyakit menular lainnya juga terus digenjot. Salah satunya malaria yang capaian tindak lanjutnya telah mencapai 97,4 persen.
“Artinya, upaya kita sudah berjalan, tapi tetap harus diperkuat,” jelas Zulkifli.
Dengan strategi yang makin agresif dan terarah, Riau optimistis bisa ikut mewujudkan target nasional bebas TBC pada 2030.
“Ini kerja bersama. Kalau konsisten, target itu bukan hal yang mustahil,” pungkasnya.(Saf/mcr)