Wadahnews.com— Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Riau menembus 10 ribu kasus sepanjang Agustus hingga awal September 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Riau mencatat sebanyak 10.783 kasus dalam periode tersebut.
Kepala Dinkes Riau, Zulkifli, mengatakan lonjakan kasus ISPA diduga kuat berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Total penderita ISPA di Riau selama periode Agustus hingga awal September tercatat sebanyak 10.783 kasus,” ujar Zulkifli, Selasa (8/9/2026).
Dari total kasus tersebut, sebanyak 5.321 pasien merupakan laki-laki dan 5.462 perempuan. Anak-anak dan balita menjadi kelompok yang rentan terdampak paparan asap.
Data Dinkes Riau mencatat 1.937 balita berusia 0–5 tahun terserang ISPA. Jumlah itu terdiri atas 1.162 laki-laki dan 775 perempuan.
Sementara itu, kasus ISPA pada anak usia 5–9 tahun mencapai 1.844 orang, dengan rincian 989 laki-laki dan 855 perempuan.
Meski kasus mengalami peningkatan, Zulkifli memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terdampak masih mampu menampung dan memberikan pelayanan kepada pasien.
Untuk menekan dampak paparan asap, Dinkes Riau terus melakukan pembagian masker gratis serta meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas. Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi lonjakan pasien secara mendadak,” jelasnya.
Di tingkat provinsi, Dinkes Riau telah mendirikan tenda posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk menangani pasien dalam kondisi kritis.
Penanganan tersebut juga melibatkan akademisi perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan, termasuk dalam pendistribusian masker kepada masyarakat, terutama pengguna jalan.
Zulkifli mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan deteksi dini terhadap gejala ISPA. Warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan asap diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) terdekat.
“Kami juga mendorong peran aktif masyarakat dalam menanggulangi dampak polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya bagi populasi rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit penyerta (komorbid),” tambahnya.
Masyarakat juga diimbau menggunakan masker yang efektif menyaring polusi udara saat beraktivitas di luar ruangan.
“Tenaga kesehatan di faskes juga telah kami minta untuk sigap memantau dan melaporkan kejadian penyakit akibat asap, seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit, hingga asma, ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,” pungkasnya.(Saf/mcr)